Rabu, 17 Oktober 2012

askep seksual lansia



MAKALAH
KEPERAWATAN GERONTIK
“ASPEK SEKSUALITAS PADA LANSIA”


DISUSUN OLEH :

1.         AJENG WAHYU PUSPITASARI                         (10620305)
2.         ANGGA PRAMUDYA                                           (10620308)
3.         ERIKA CANDRASARI                                          (10620314)
4.         FENDY DWI SETYAWAN                                      (10620320)






PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
2012


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah tentang “Aspek Seksualitas pada Lansia” ini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Keperawatan Gerontik, Indah Jayanti, S.Kep, Ns, M  Biomed.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari buku panduan dan hasil dari browsing internet yang berkaitan dengan Aspek Seksualitas pada Lansia dan hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut.

Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai kasus –kasus yang terjadi sehubungan dengan Aspek Seksualitas pada Lansia dan segala hal yang berkaitan dengan hal tersebut, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam memberikan asuhan keperawatan kepada lansia, khususnya bagi para praktisi medis yang bersangkutan dengan hal-hal ini.
Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Kediri, 28 September 2012


Penyusun


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Masalah kesehatan jiwa lansia termasuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi, yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lansia, meliputi aspek fisiologis, psikologis, sosial, kultural, ekonomi dan lain-lain (Depkes.RI, 1992:6)Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.
Kehidupan seksual merupakan bagian dari kehidupan manusia, sehingga kualitas kehidupan seksual ikut menentukan kualitas hidup. Hubungan sekual yang sehat ialah hubungan seksual yang dikehendaki, dapat dinikmati bersama dan tidak menimbulkan akibat buruk, baik fisik maupun psikik.Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa banyak golongan lansia tetap menjalankan aktivitas seksual sampai usia yang cukup lnajut, dan aktivitas tersebut hanya dibatasi oleh status kesehatan dan ketiadaan pasangan. Tapi tidak semua lansia dapat merasakan kehidupan seksual yang harmonis.
Ada tiga penyebab mengapa kehidupan seksual tidak harmonis. Pertama, komunikasi seksual diantara pasangan tidak baik. Kedua, pengetahuan seksual tidak benar. Ketiga karena gangguan fungsi seksual pada salah satu maupun kedua pihak bisa karena perubahan fisiologis maupun patologis. Agar kualitas hidup tidak sampai terganggua karena masalah seksual, maka setiap disfungsi seksual harus segra diatasi dengan cara yang benar dan ilmiah. Yang perlu diperhatikan dalam penanganan disfungsi seksual ialah pertama kita harus menentukan jenis disfungsi seksual dengan tepat, mencari penyebabnya, memberikan pengobatan sesuai penyebab dan untuk memperbaiki fungsi seksual.
1.2.Rumusan Masalah
Bagaimana aspek seksualitas pada lansia?
1.3.Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui tentang aspek seksualitas pada lansia.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui konsep Lansia.
2. Mengetahui perubahan-perubahan seksual pada Lansia.
3. Mengetahui aspek seksualitas pada lansia.
4. Mengetahui aktivitas seksualitas pada lansia.
5. Mengetahui penatalaksanaan permasalahan aspek seksualitas lansia
1.4.Manfaat Penulisan
1.4.1. Manfaat teoritis
1. Bagi penulis, makalah ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendalami pemahaman tentang aspek seksualitas lansia.
2. Bagi pembaca, khususnya mahasiswa keperawatan dapat mengerti tentang peran perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan lansia yang sesuai dengan standart kesehatan demi meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian yang lebih lanjut.
1.4.2. Manfaat praktis
Mahasiswa keperawatan dapat memberikan pelayanan sehubungan dengan prinsip keperawatan lansia, khususnya menangani masalah aspek seksualitas lansia.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Lansia.
Lansia merupakan individu yang berusia lanjut yang mengalami proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang dideritanya (Constantinidas, 1994).
Seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas (UUD no. 13 tahun 1998).
Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia, sedangkan Seksualitas pada usia lanjut selalu mendatangkan pandangan yang bias, bahkan pada penelitian di negara barat , pandangan bias tersebut jelas terlihat.
Batasan-batasan lansia
-         Menurut WHO lansia terbagi :
a.       Usia pertengahan (Middle age)       : 45-59 tahun
b.      Lanjut usia (elderly)                        : 60-75 tahun
c.       Lanjut usia tua (old)                        : 75-90 tahun
d.      Usia sangat tua (very old)               : diatas 90 tahun

2.2.Perubahan Fisiologis pada lansia
Akibat perkembangan usia, masa lansia mengalami perubahan bersifat universal dan menuntut lansia untuk beradaptasi,secara terus menerus, perubahan tersebut antara lain : perubahan fisik, perubahan psikososial, dan perubahan spiritual
NO
ORGAN SISTEM
MORFOLOGI DAN FUNGSI
1



2











3





4




5










6


















7






8








9

10











11







12






13








14







15


Keseluruhan



Sistem integumen











Temperatur tubuh





Sistem muskular




Sistem kardiovaskuler









Sistem perkemihan


















Sistem pernapasan






Sistem gastrointestinal







Rangka tubuh

Sistem penglihatan











Sistem pendengaran







Sistem syaraf






Sistem endokrin








Sistem reproduksi







Daya pengecap dan pembauan
Berkurangnya tinggi badan dan BB, bertambahnya fat – to – lean body mass ratio dan berkurangnya cairan tubuh

Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering dan elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya cairan adiposa, kulit pecah, dan terdapat bintik-bintik hitam akibat menurunnya aliran darah ke kulit dan menurunnya sel-sel yang memproduksi pigmen, kuku pada jaringan tangan dan kaki menjadi tabal dan rapuh, pada wanita usia > 60 tahun rambut wajah meningkat, rambut menipis dan botak dan warna kelabu, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya dan fungsi kulit sebagai proteksi menurun.

Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun, keterbatasan reflek mengigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak diakibatkan oleh rendahnya aktivitas otot

Kecepatan dan kekuatan kontraksi otot skeletal berkurang, pengecilan otot akibat menurunnya serabut otot, pada otot polos tidak begitu terpengaruh.

Katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun 1% pertahun, berkurangnya cardiac output, heart failure terhadap respon stress, kehilangan elastis pembuluh darah, tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer, bertambah panjang dan lekukkan, arteri termasuk aorta intima bertambah tebal, fibrosa di media arteri.


Ginjal mengecil, nefron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%, filtasi glomerulus menurun sampai 50% fungsi tubulus berkurang akibatnya kurang mampu mempertahankan urin, berat jenis urine menurun, proteinuria, ambang ginjal terhadap glukosa meningkat, kapasitas kandung kemih menurun 200 ml karena otot-otot yang melemah, frekuensi berkemih meningkat, kandung kemih sulit dikosongkan pada pria akibatnya retensi urine meningkat, pembesaran prostat (75% usia diatas 65 tahun), bertambahnya glomeruli yang abnormal, berkurangnya kreatinine clearance, berkurangnya renal blood flow, berkurangnya maximum urine osmolity, berat ginjal menurun 30-50 % dan jumlah nefron menurun, kemampuan memekatkan atau mengencerkan oleh ginjal menurun.

Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadikaku, menurunya aktivitas cilia, berkurangnya elastisitas paru, alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlah berkurang, oksigen arteri menurun menjadi 75 mmHg, CO2 pada arteri tidak berganti, berkurangnya reflek batuk

Kehilangan gigi, indera pengecap menurun, esofagus melebar, rasa lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan lambung menurun, peristaltik melemah sehingga dapat mengakibatkan konstipasi, kemampuan absorbsi menurun, dan hati mengecil, kemampuan saliva menurun, produksi hcl dan pepsin menurun pada lambung.

Osteotritis, hilangnya bonesubstance

Kornea lebih berbentuk sferis, sfingter pupil timbul sclerosis dan hilangnya respon terhadap sinar, lensa menjadi keruh, meningkatnya ambang pengamatan sinar (daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melhat cahaya gelap). Berkurangnya atau hilangnya daya akomodasi, menurunnya lapang pandang, berkurangnya luas pandangan, berkurangnya sensitivitas terhadap warna (menurunnya daya membedakan warna hijau atau biru pada skala dan depth perception).

Penurunan pendengaran pada lansia, membrana timpani menjadi atropi menyebabkan otot sklerosis, penumpukan serumen sehingga mengeras karena meningkatnya keratin, perubahan degeneratif asikel, bertambahnya obstruksi tuba eustachius, berkurangnya persepsi nada tinggi, berkurangnya pitch diserimination

Berkurangnya berat otak sekitar 10-20%, berkurangnya sel kortikal, reaksi menjadi lambat, kurang sensitif terhadap sentuhan, berkurangnya aktivitas sel T, bertambahnya waktu jawatan motorik, hantaran neuron motorik melemah, kemunduran fungsi saraf otonom.

Produksi hampri semua hormon menurun, fungsi pharatyroid dan sekresinya tidakberubah, berkurangnya ACTH, FSH, TSH, LH, menurunnya aktivitas tyroid akibatnya basal metabolisme menurun, menurunnya produksi aldosterone, estrogen dan bertembahnya insulin, parathormon, vasopresin, berkurangnya kridotironin, psikomotor melambat

Selaput lendir vagina menurun atau kering, menciutnya ovari dan uterus, atropi payudara, testis masih dapat memproduksi meskpun adanya penurunan secara berangsur-angsur dan dorong sek menetap sampai diatas usia 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik, penghentian produksi ovum pada saat menopause.

Menurunnya kemampuan melakukan pengecapan dan sensitivitas terhadap 4 rasa menurun : gula, garam, mentega, asam setelah usia 50 tahun.

Penelitian akhir-akhir ini menunjukan bahwa :
  1. Banyak golongan lansia tetap menjalankan aktivitas seksual sampai usia yang cukup lanjut, dan aktivitas tersebut hanya dibatasi oleh status kesehatan dan ketiadaan pasangan.
  2. Aktivitaas dan perhatian seksual dari pasangan suami istri lansia yang sehat berkaitan dengan pengalamn seksual kedua pasangan tersebut sebelumnya.
  3. Mengingat bahwa kemungkinan hidup seorang wanita lebih panjang dari pria, seorang wanita lansia yang di tinggal mati suaminya akan sulit menemukan pasangan hidup

2.3. Perubahan-Perubahan Seksual pada Lansia.
Pada dasarnya perubahan fisiologik yang terjadi pada aktivitas seksual pada lansia biasanya berlangsung secara bertahap dan menunjukan status dasar dari aspek vaskuler, hormonal dan neurologiknya (Alexander and allison, 1989). Untuk suatu pasangan suami-isteri, bila semasa usia dewasa dan pertengahan aktivitas seksual mereka normal, akan kecil sekali kemungkinan mereka akan mendapatkan masalah dalam hubungan seksualnya.
Kaplan membagi siklus tanggapan seksual dalam beberapa tahap, yaitu fase desire (hasrat) dimana organ targetnya adalah otak. Fase ke-2 atau fase arousal (pembangkitan/penggairahan) dengan organ targetnya adalah sistem vaskuler dan fase ke-3 atau fase orgasmic dengan organ target medulla spinalis dan otot dasar perineum yang berkontraksi selama orgasme. Fase berikutnya yaitu fase pasca orgasmic merupakan fase relaksasi dari semua organ target tersebut.
Perubahan fisiologik dari aktivitas seksual yang diakibatkan oleh proses menua ditinjau dari pembagian tahapan seksual menurut Kaplan, yaitu :
  1. Fase tanggapan seksual Pada Wanita Lansia Pada Pria Lansia
  2. Fase desire(hasrat) Terutama dipengaruhi oleh penyakit baik dari dirinya sendiri atau pasangan, mungkin menurun dengan makin lanjutnya usia, tetapi hal ini bisa bervariasi. Hasrat sangat dipengaruhi oleh penyakit, mulai usia umur 55 tahun testoteron menurun yang akan mempengaruhi libido.
  3. Fase arousal (gairah) Pembesaran payudara berkurang, lubrikasi vagina menurun, otot-otot yang menegang pada fase ini menurun. Membutuhkan waktu lebih lama untuk ereksi, ereksi kurang begitu kuat.
  4. Fase orgasmic (fase muscular) Kemampuan untuk mendapatkan orgasme multiple berkurang dengan makin lanjutnya usia. Kemampuan mengontrol ejakulasi membaik, kekuatan kontraksi otot dirasakan berkurang/menurun.
  5. Fase pasca orgasmik Mungkin terdapat periode refrakter, dimana pembangkitan gairah secara segera lebih sukar. Periode refrakter memanjang secara fisiologis, dimana ereksi dan orgasme berikutnya lebih sukar terjadi.

2.4. Aspek Seksualitas pada Lansia
Pada usia lanjut, terdapat berbagai hambatan untuk melakukan aktivitas seksual yang dapat dibagi menjadi hambatan eksternal yang datang dari lingkungan dan hambatan internal, yang terutama berasal dari subyek lansianya sendiri.
Hambatan eksternal biasanya berupa pandangan sosial, yang menganggap bahwa aktivitas seksual tidak layak lagi dilakukan lagi oleh para lansia. Masyarakat biasanya masih bisa menerima seorang duda lansia kaya yang menikah lagi dengan wanita yang lebih muda atau mempunyai anak setelah usianya agak lanjut, tetapi hal sebaliknya seorang janda kaya yang menikah dengan pria yang lebih muda seringkali mendapat cibiran masyarakat. Hambatan eksternal bilamana seorang janda atau duda akan menikah lagi seringkali juga berupa sikap menentang dari anak-anak, dengan berbagai alasan. Kenangan pada ayah/ibu yang telah meninggal atau ketakutan dan berkurangnya warisan merupakan latar belakang penolakan. Di negara barat hal ini masih terjadi, akan tetapi pengaruhnya di negara timur akan lebih terasa mengingat kedekatan hubungan orang tua dengan anak-anak (Hadi-Martono).
Pada lansia yang berada di institusi, misalnya dip anti wredha, hambatan terutama adalah karena peraturan dan ketiadaan privasi di institusi tersebut.Hambatan internal psikologik seringkali sulit dipisahkan secara jelas dengan hambatan eksternal. Seringkali seorang lansia sudah merasa tidak bisa dan tidak pantas berpenampilan untuk bisa menarik lawan jenisnya. Pandangan social dan keagamaan tentang seksualitas di lansia(baik pada mereka yang masih mempunyai pasangan, tetapi terlebih pada mereka yang sudah menjada/menduda ) menyebabkan keinginan dalam diri mereka ditekan sedemikian sehingga memberikan dampak pada ketidakmampuaan fisik, yang dikenal sebagai impotensia.
Obat-obatan yang sering diberikan pada penderita lansia dengan patologi multiple juga sering menyebabkan berbagai gangguan fungsi seksual pada usia lanjut.Impotensia pada usia lanjut.Secara umum impotensia merupakan istilah yang berarti “tidak mampu (melakukan aktivitas seksual)”, dan dapat dibedakan sebagai impotensia coendi (ketidak mampuan untuk melakukan hubungan seksual), Impotensia erigendi (tak mampu ber-ereksi) dan impotensia generandi (tak mampu menghasilkan keturunan ). Dalam banyak hal istialah tersebut memang banyak mengenai pria, karena memang aktivitas seksual terutama menyangkut kemampuan penis untuk berpenetrasi ke dalam vagina. (Hadi-Martono, 1996). Khusus menyangkut impotensia erigendi, akhir-akhir ini diperkenalkan dengan nama disfungsi ereksi.
Disfungsi ereksi (DE) adalah ketidak mampuan secara konsisten untuk mencapai dan/atau mempertahankan ereksi sedemikian hingga mencapai aktivitas seksual yang memuaskan (Vinik, 1998). Definisi ini memberi arti bahwa keadaan ini bukan suatu masalah yang hanya kadang-kadang terjadi, akan tetapi suatu keadaan yang terjadi berurangkali dalam suatu periode waktu tertentu.
Rangsangan untuk timbulnya ereksi (dan akhirnya ejakulasi) bisa bermula dari rangsangan psikologik (fantasi, bayangan erotik), olfaktorik (bau-bauan) dan rangsangan sentuh atau rabaan. Rangsangan tersebut melalui jalur kortiko-talamikus, limbik maupun talamo-retikularis dan sebaliknya kemudian akan di teruskan ke susunan saraf otonom (para simpatis) yang akan menyebabkan vasodilatasi korpus kavemosa penis. Setelah aktivitas seksual terjadi, saraf simpatis akan membantu terjadinya ejakulasi. Di samping pengaruh hormonal, vasodilatasi memerluakan oksida nitrat (NO) sebagai transmitter saraf yang menyebabkan pelepasan GMP siklik yang mengakibatkan dilatasi korpus kavemosa penis. Dari gambaran tersebut di atas dapat dilihat bahwa proses ereksi menyangkut berbagai fungsi diantaranya saraf, vaskuler, hormonal tetapi juga psikoklogik dan kimiawi yang berpengaruh pada ke-3 aspek ereksi. (leslie, 1987, Harmon and Tsitaurus, 1980).
Secara garis besar DE dapat dibagi menjadi 2 bagian sebagai berkut :
  1. DE organik, sebagai akibat gangguan endokrin, neurogenik, vaskuler. DE endokrinologik biasanya disebabkan oleh gangguan testikuler baik primer maupun sekunder. DE vaskuler bisa terjadi pada penyakit leriche yaitu suatu obstruksi di pangkal bifurkasio a.iliaka di daerah abdominalis yang mengakibatkan klaudikasio dan DE.
  2. DE psikologik atau psikogenik, sebelumnya selalu dikataka sebagai penyebab terbesar DE yang pada penelitian terakhir ternyata tidak benar. Karena pada usia lanjut justru terjadi gangguan organik, walaupun factor psikogenik juga berperan.

2.5. Aktivitas Seksualitas pada Lansia.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa lebih dari 90 persen  gangguan seksual di sebabkan oleh faktor psikologis (psikoseksual). Walaupun pengaruh psikologi cukup besar, ternyata pengaruh faktor fisik semakin tinggi pada lansia. Semakin tua usia seseorang, penyebab fisik dapat lebih besar daripada penyebab psikologis.
Pengaruh Umum Penuaaan Fungsi Seksual Pria
Secara umum, pengaruh penuaan fungsi seksual pada pria meluputi hal-hal berikut:
1.    Terjadi penurunan sirkulasi tertosteron, tetapi jarang menyebabkan gangguan fungsi seksual pada lansia yang sehat.
2.    Ereksi penis memerlukan waktu lebih lama dan mungkin tidak sekeras yang sebelumnya. Perangsangan langsung pada penis sering kali di perlukan.
3.    Ukuran testis tidak bertambah,elevasinya lambat,dan cenderung turun.
4.    Kelenjar penis tampak menurun
5.    Kontrol ejakulasi meningkat.ejakulasi mungkin terjadi setiap 3 episode seksual.penurunan fungsi ejakulasi sulit untuk di sembuhkan.
6.    Dorongan seksual jarang terjadi pada pria di atas 50 th.
7.    Tingkat organsme menurun atau hilang.
8.    Kekuatan ejakulasi menurun sehingga organisme kurang semangat.
9.    Ejakulasi selama organisme terdiri dari satu atau dua kontraksi pengeluaran,sedangkan pada orang yang lebih muda dapat terjadi empat kontraksi  besar dan di ikuti kontraksi kecil sampai beberapa detik.
10.Ejakulame si di keluarkan tanpa kekuatan penuh dan mengandung sedikit sel sperma.Meskipun tingkat kesuburan menurun,tidak berarti lansia menjadi mandul.
11.Penurunan tonus otot menyebabkan spasme pada organ genital eksterna yang tidak biasa.frekuensi kontraksi sfingter ani selama organsme menurun.
12.Setelah ejakulasi,penurunan ereksi dan testis lebih cepat terjadi.
13.Kemampuan ereksi setelah ejakulasi semakin panjang,pada umumnya dua belas sampai empat puluh delapan jam setelah ejakulasi.Ini berbeda pada orang muda yang hanya membutuhkan beberapa menit saja.
14.Pada klimaksnya,hubungan seksual masih memberikan kepuasan yang kuat.

Pengaruh Umum Penuaan Fungsi Seksual Wanita
Secara umum pengaruh penuaan fungsi seksual wanita sering dihubungkan dengan penurunan hormon, seperti berikut ini :
  1. Lubrikasi vagina memerlukan waktu lebih lama.
  2. Pengembanagan dinding vagina berkurang pada panjang dan lebarnya.
  3. Dinding vagina menjadi lebih tipis dan mudah teriritasi.
  4. Selama hubungan seksual dapat terjadi iritasi pada kandung kemih dan uretra.
  5. Sekresi vagina berkurang keasamannya,meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi.
  6. Penurunan elevasi uretra
  7. Atrofi labia mayora dan ukuran klitoris menurun.
  8. Fase organsme lebih pendek.
  9. Fase resolusi muncul lebih cepat
  10. Kemampuan multipel organsme masih baik.
Aktivitas seksual mungkin terbatas karna ketidakmampuan spesifik, terapi dorongan seksual, ekspresi cinta, dan perhatian tidak seksual diasumsikan dengan sakit, lebih baik perhatian difokuskan pada sesuatu yang mungkin dilakukan. Pengaruh psikososial dari ketidakmampuan pada umumnya mempunyai pengaruh yang lebih negatif pada fungsi seksual daripada gangguan fisik akibat ketidakmampuan itu sendiri. Mengembangkan kepercayaaan diri dan membentuk ekspresi seksual yang baru dapat banyak membantu pada lansia yang mengalami ketidakmampuan  seksual.
Artritis dengan deformitas pada sendi, memungkinkan terjadinya kontraktur dan nyeri, kangker dengan nyeri dan komplikasi operasi, kemoterapi dan radiasi, gangguan neuromuskular yang menyebabkan lansia merasa kurang menarik dan mempunyai daya tarik seksual. Perasaaan negatif ini menghambat pengembangan emosi dan fisik. Beberapa penyakit dihubungkan dengan penurunan daya tahan atau nyeri dapat menyebabkan ketakutan dan menghalangi dorongan aktifitas seksual. Ketakutan dan persepsi negatif ini harus diatasi sehingga lansia dapat menikmati kehidupan/hubungan seksualnya.
Pada beberapa  lansia, kunci untuk mempertahankan kemampuan seksual secara penuh adalah kemampuan untuk mengubah pola lama ke pola baru dengan baik. Hubungan seksual  tradisional, artinya posisi laki-laki di atas mungkin sangat memuaskan orang pada saaat masih muda. Akan tetapi, penelitian terakhir menunujukkan bahwa variasi posisi ternyata lebih memuaskan atau minimal dapat dinikmati.

Sikap dan Posisi Hubungan Seksual
Sikap dan posisi hubungan seksual  yang dapat meningakatkan partisipasi seksual pada lansia adalah sebagai berikut.
1.      Memahami perubahan normal yang berhubungan dengan lansia.
2.      Meningkatkan komunikasi pada masalah non-seksual sama baiknya dengan komunikasi seksual.
3.      Menikmati setiap kejadian.Jangan terburu-buru,kurangi ketakutan.
4.      Menggunakan posisi seperti miring atau duduk yang tidak terlalu banyak menumpu dalam kontraksi otot lengan secara Isometrik.
5.      Gunakan posisi yang tidak menekan sendi,tengkurap yang menimbulkan nyeri atau strain otot.
6.      Gunakan latihan kegel untuk meningkatkan tonus otot dan kontraksi vagina selama aktifitS seksual.Pria dan wanita dapat memperoleh keuntungan dari latihan kegel karna ini dapat meningkatkan kekuatan kontraksi otot sfingter uretra  dan sfingter ani.Ltihan kegel harus dilakukan beberapa kali sehari dengan mengontraksikan otot pubokoksigeus dua puluh sampai tiga puluh kali.
7.      Lakukan stimulasi  oral-genital.
8.      Stimulasi oragan genital secara manual.
9.      Gunakan vibrator sendiri atau dengan pasangan.
10.  Lakukan masturbasi sendiri atau dengan pasanagan.
11.  Konsultasi dengan dokter apabila ada masalah impotensi.
12.  Gunakan teknik stuffing,yaitu masukkan penis kevagina sebelum ereksi penuh tercapai.Penis biasanya akan menjadi lebih keras/tegang sebagai hasil stimulasi di dalam vagina.
13.  Coba nikmati sentuhan dan massage.Gunakan krim atau minyak agar lebih menyenangkan.Saling memberikan perhatian dalam hubungan seksual dapat memberikan kenikmatan pada lansia pria maupun wanita dan dapat mengurangi ketakutan pada pria.
14.  Gunakan pelumas seperti K-Jelly selama hubungan seksual atau masturbasi.
15.  Lakukan pelukan,ciuman,usapan,rayuan dan canda.
16.  Lakukan gaya hidup yang sehat,yaitu cukup istirahat,olahraga secukupnya,jangan merokok,setta jangan makan atau minum yang berlebihan.
17.  Ciptakan suasanan yg romantis.
18.  Perhatikan kebersihan diri dan penampilan diri agar pasangan tertarik.

2.6.  Penatalaksanaan masalah seksual pada usia lanjut
Penatalaksanaan penderita lansia dengan masalah seksual pada dasarnya tidak berbeda dengan penderita usia muda. Yang berbeda adalah bahwa ketelitian dan kehati-hatian baik dalam diagnosis maupun pemberian terapi harus lebih ditekankan karena sangat berpengaruh pada keadaan umum penderita.
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan dihadapan pasangannya. Anamnesis harus rinci meliputi awitan, jenis maupun intesitas gangguan yang dirasakan. Juga anamnesis tentang gangguan sistemik maupun organik yang dirasakan.
Terapi yang diberikan tentu saja tergantung dari diagnosis penyakit/gangguan yang mendasari keluhan. Pada keadaan disfungsi ereksi, terapi yang diberikan dapat berupa :
  1. Terapi psikologik
  2. Medikamentosa (hormonal atau injeksi intra-korporeal)
  3. Pengobatan dengan alat vakum
  4. Pembedahan


ASKEP KLIEN DENGAN INTIMACY DAN SEKSUALITY

Penerapan proses keperawatan meliputi pengkajian menyeluruh,perencanaan yang cermat, stategi implementasi yan tepat dan evaluasi berkesinambungan terhadap klien.
1.    PENGKAJIAN
Menurut Pasquali,Arnold dan De Basio (1989) dan Craven dan Hirnle (1996).penggunaan diri secara terapeutik sangat penting dalam menciptakan lingkungan dimana kesehatan seksual di persepsikan sebagai bagian integral dari riwayat menyeluruh klien. Ketepatan pengumpulan data tergantung pada kemampuan perawat untuk menciptakan lingkungn yang menunjang suasana wawancara. Berikut ini pedoman wawancara yang baik dalam mengumpulkan data yang berkaitan dengan seksual:
  1. Menggunakan pendekatan yang tepat jujur berdasarkan fakta yang menyadari bahwa klien sedang mempunyai pertanyaan atau masalah seksualitas.
  2. Mempertahankan kontak mata dan duduk dekat klien.
  3. Memberikan waktu yang memadai untuk membahas masalah seksual, jangan terburu-buru.
  4. Menggunakan pertayaan yang terbuka, umum, dan luas untuk mendapatkan informasi mengenai pengetahuan,persepsi dan dampak penyakit berkaitan dengan seksualitas.
  5. Jangan mendesak klien.
  6. Mengkaji masalah seksual :
1.    Fantasi : mungkin digunakan untuk meningkatkan kepuasan seksual.
2.    Denial : mungkin digunakan untuk tidak mengakui adanya konflik atau ketidakpuasan seksual.
3.    Rasionalisasi : mungkin digunkan untuk memperoleh pembenaran atau penerimaan tentang mitif, perilaku, perasaan dan dorongan seksual
4.    Menarik Diri : mungkin dilakukan untuk mengatasi perasaan lemah, perasaan ambivalens terhadap hubungan intim yang belum terselesaikan secara tuntas.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan primer menurut Nourth American Nursing Diagnosis
Association (NANDA) yang ditulis oleh Stuart dan Sunden (1995) adalah “perubahan pola seksualitas termasuk tidak mengalami kepuasaan seksualitas yang melibatkan konflik antara peran seks dan nilai,disfungsi seksual meliputi keterbatasan fisik”. Contoh diagnosa keperawatan terkait aspek seksual dalam asuhan keperawatan, yaitu:
  1. Perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan rasa malu setelah masektomi, ditandai oleh tidak adanya keinginan seksual.
  2. Perubahan seksualitas yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mencapai organsme ditandai oleh tidak adanya kepuasaan seksual.
  3. Perubahan seksualitas yang berhubungan denagn konflik perkawinan, ditandai oleh tidak timbul gairah pada saat pemanasan sebelum berhubungan intim.
  4. Disfungsi seksual yang berhubungan dengan minum alcohol yang berlebihan, ditandai oleh ketidakmampuan untuk mempertahankan ereksi.
  5. Disfungsi seksual yang berhubungan dengan rasa takut terhadap penetrasi, ditandai rasa sakit ketika berhubungan intim.

3. PERENCANAAN
Isi Kegiatan Instruksional Evaluasi
a.    Menguraikan berbagai respons seksual manusia
Membahas dorongan teknik dan cara ekspresi seksual à Pasien mengidentifikasikan pilihan dan tingkat fungsi seksual
b.    Menguraikan masalah primer pasien
Memberikan informasi yang tepat tentang gangguan yang disebabkan oleh kelemahan organik à Pasien mengerti tentang sifat penyakit organic
c.    Mengidentifikasikan hubungan antar masalah organic pasien dengan tingkat fungsi seksual
Menyusun kembali distorsi atau keracunan persepsi persepsi mengenai dampak penyakit terhadap fungsi seksual à Pasien dengan tepat menguraikan dampak penyakit terhadap fungsi seksual
                                                                                                       
d.   Mengidentifikasikan cara untuk meningkatkan fungsi seksual pasien dan meningkatkan komunikasi interpersonal
Menguraikan pengalaman tambahan yang meninghkatykan kepuasan seksual dan hubungan antara pasien dan pasangannya à Pasien dan pasangannya melaporkan ansietas yang menurun dan meningkatnya kepuasan respons seksual

4. IMPLEMENTASI
Prinsip Rasional Tindakan:
Mengetahui parasaan seksual anda sendiri Perawat perlu untuk mengetahui perasan seksualnya terhadap pasien. Ingat bahwa perasaan tidak dapat ditentukan sebagai benar atau salah,tetapi prilaku dapat dievaluasi sebagai terapeutik atau tidak terapeutik terhadap klien
a.    Terbuka terhadap perasaan anda sendiri
b.    Terima perasaan anda sendiri
c.    Gali penyebab perasaan
d.   Memeriksa perilaku anda terhadap klien Jika bekerja dengan meningkatkan kesadaran terhadap perasaan dan pikiran, perawat dapat mengubah perilaku yang tidak terapeutik kearah yang lebih terapeutik secara efektif
e.    Jaga hubungan yang berfokus pada klien
f.     Jangan terlibat secara berlebihan denganmasalah klien (dapat mempengaruhi keputusan klinik)
g.    Jangan memberikan informasi pribadi diri anda dengan klien
h.    Jangan membahas perasaan tertarik seksual dengan klien
i.      Konsultasi setelah perawat menyadari perasaannya dan memberikan perilakunya, konsultasi pada perawat yang lebih berpengalaman mungkin berguna untuk mengatasi masalah dengan tepat dan merasa lebih mampu dalam pendekatannya dengan klien
j.      Percayakan rahasianya terhadap perawat,sejawat atau atasan yang berpengalaman
k.    Minta bantuan untuk menggali isyu tersebut agar dapat meningkatkan kesadaran tentng factor yang mempengaruhi perasaan anda


Contoh Kasus
Kasus 1 : Masalah seksualitas karena kematian istri

Data Pendukung : Laki-laki, berusia 51 th, istri meninggal 2 th lalu, menyatakan bahwa ia mempunyai keinginan untuk menikah lagi, karena sulit menahan seksualnya. Mengatakan bahwa jika ia aktif secara seksual “tidak adil terhadap istrinya yang meninggal”. Aktif dalam kelompok politik yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Tertarik pada seorang wanita yang menjadi teman kelompoknya.
Tujuan jangka panjang : Menikah dan mencapai hubungan seksual yang memuaskan
Tujuan jangka pendek :
1.    Menghadiri pertemuan dengan konselor .
2.    Membuat pernyataan yang menunjukkan penerrimaan bahwa dirinya menarik dan mampu menjalin hubungan baru
3.    Menyatakan bahwa menjalin hubungan baru tidak berarti bahwa dirinya tidak mencintai lagi isterinya yang telah meninggal.
Tindakan Keperawatan
1.    Meluangkan waktu bersama pasien untuk menggali perasaan yang sedang disepakatinya
Rasional : Meluangkan waktu untuk pasien menunjukkan bahwa perawat memperhatikan dan memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan berduka yang mempengaruhi kehidupan seksualnya
2.    Menunjukkan minat terhadap keterlibatannya terhadap kelompok dan pada teman barunya
Rasional : Menunjukkan rasa tertarik terhadap teman barunya kan mendukung peran serta klien dan perasaan menerima
3.    Menggali kemungkinan untuk merujuk klien pada konselor untuk membantu mengatasi rasa berkabung dan konflik seksual
Rasional : Mencarikan sumber untuk mengatasi rasa berkabung dan memberikan informasi kepada klien memungkinkannya menerima dukungan yang diperlukan
4.    Selalu siap membantu klien
Rasional : Selalu menunjukkan siap membantu klien akan memungkinkan suatu komunikasi yang terbukan sehingga klien merasa bebas untuk mengekspresikan perasaan ansietas dan berduka karena kehilangan.

BAB 3
PENUTUP

3.1.  Kesimpulan
Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Walaupun proses penuaan benar adanya dan merupakan sesuatu yang normal, tetapi pada kenyataannya proses ini menjadi beban bagi orang lain dibadingkan dengan proses lain yang terjadi. Perawat yang akan merawat lansia harus mengerti sesuatu tentang aspek penuaan yang normal dan tidak normal. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.
Salah satu masalah yang dialami oleh banyak orang pada usia lanjut ialah masalah seksual. Disfungsi seksual merupakan masalah yang umum dialami oleh kelompok usia lanjut, baik pria maupun wanita. Banyak kelompkk usia lanjut yang merasa terganggu dengan disfungsi seksual yang dialaminya.
Pada wanita, usia lanjut pada umumnya diidentikkan dengan terjadinya menopause. Pada masa ini, masalah seksual sering terjadi yang berhubungan dengan menurunnya hormon estrogen dan progesteron.
Pada pria lanjut, tidak ada suatu proses yang berhenti seperti pada wanita yang mengalami menoupouse. Tetapi, pada pria usia lanjut juga mengalami penurunkan fungsi seksual yang acapkali menibulkan masalah seksual.

3.2.  Saran
3.2.1. Bagi Penulis
Kami sebagai penyusun menyadari penulisan tugas kelompok ini masih jauh dari sempurna maka kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pihak pembaca dan dari pihak manapun sangat kami harapkan.
3.2.2. Bagi Pembaca
Setelah membaca makalah ini kami harapkan kepada pembaca/masyarakat mampu menerapkan asuhan secara mandiri tanpa bimbingan orang lain atau petugas, minimal dapat melakukan pencegahan agar tidak terjadi disfungsi yang lebih lanjut.


DAFTAR PUSTAKA

Adimulya, A. (1986). Respon seksual pria usia senja dan beberapa permasalahannya : naskah simposium hubungan suami istri pada usia lanjut. Semarang.
Alimul, AH. (2003). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba medika
Almatsier, S. (2002). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: EGC
Arikunto, S.(1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta.
 Arikunto,S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta : Rineka Cipta.
Azwar, A. (2006). Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Depkes: Jawa Timur
Darmojo, dkk. (2006). Geriatri Ilmu Usia Lanjut. FKUI : Jakarta
Darmojo, R. Buedhi. (1999). Buku Ajar Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta : FKUI.
Hernawati, I. (2006). Pedoman Tatalaksana Gizi Usia Lanjut Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta : Depkes
Martono, Hadi. (1996). Kegiatan seksual pada lanjut usia. Purwokerto : Naskah simposium sek rotary Club.
Maryam, S. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya .Jakarta : Salemba Medika.
Nasrul, E. (1998). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Edisi 2. Jakarta : EGC
Notoadmodjo, S. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Nugroho, W. (2000). Keperawatan Gerontik & Geriatric. Edisi 3. Jakarta : EGC
Anonim. (2008). Masalah Seksual Lansia. [Internet]. Bersumber dari : http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/17/masalah-seksual-lansia/. (Diakses pada tanggal 29 September 2012, pukul 19.56 WIB)
Anonim. (2010). Aspek Seksualitas Pada Golongan Usia Lanjut. [Internet]. Bersumber dari : http://keperawatangerontik.blogspot.com/2010/11/aspek-seksualitas-pada-golongan-usia.html. (Diakses pada tanggal 29 September 2012, pukul 19.56 WIB)
Anonim. (2010). Teori Seksualitas pada Lansia. [Internet]. Bersumber dari : http://wiwin-tugaskeperawatangerontik.blogspot.com/2010/12/normal-0-false-false-false.html?zx=1ff71a3570038af5. (Diakses pada tanggal 29 September 2012, pukul 19.56 WIB)
Anonim. (2011). Konsep Lansia. [Internet]. Bersumber dari : http://udin-fotocopywarnet.blogspot.com/2011/02/konsep-lansia.html. (Diakses pada tanggal 29 September 2012, pukul 19.56 WIB)
Anonim. (2011). Makalah seksualitas pada lansia. [Internet]. Bersumber dari : http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/07/makalah-seksualitas-pada-lansia.html. (Diakses pada tanggal 29 September 2012, pukul 19.56 WIB)
Anonim. (2011). Penurunan Seksualitas pada Lanjut Usia. [Internet]. Bersumber dari : http://www.smallcrab.com/lanjut-usia/468-penurunan-seksualitas-pada-lanjut-usia. (Diakses pada tanggal 29 September 2012, pukul 19.56 WIB)
Anonim. (2011).Aspek Seksualitas pada Lansia. [Internet]. Bersumber dari : http://noefry.blogspot.com/2011/04/aspek-seksualitas-pada-lansia.html. (Diakses pada tanggal 29 September 2012, pukul 19.56 WIB)
Putri, G. Martha. (2012). Seks pada wanita Lansia. [Internet]. Bersumber dari : http://health.okezone.com/read/2012/01/17/485/558854/seks-pada-wanita-lansia. (Diakses pada tanggal 29 September 2012, pukul 19.56 WIB)
Rachman, Ardhi. (2008). Layanan Seks untuk Lansia. [Internet]. Bersumber dari : http://artina.wordpress.com/2008/05/30/layanan-seks-untuk-lansia/. (Diakses pada tanggal 29 September 2012, pukul 19.56 WIB)
Suprayanto. (2010). Konsep Lanjut Usia. [Internet]. Bersumber dari : http://dr-suparyanto.blogspot.com/2010/07/konsep-lanjut-usia-lansia.html. (Diakses pada tanggal 29 September 2012, pukul 19.56 WIB)

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates